Wonderboys (Bab 1,,Dual Profession)

Bab 1

Dual Profession

SORE ITU ketika  sang panas tak lagi begitu menyengat, kurasakan dalam lubuk hati terdalam semua komponen alam begitu bersahabat, begitu intim dan memeluk erat hingga merasuk  kedalam sumsum – sumsum tulangku. Ketika sang angin berhembus dengan sepoinya menusuk tepat ke ulu hatiku yang sedang dilanda perasaan luar biasa bahagia. Matahari yang biasanya membakar dunia dengan sengatan panasnya, kali ini aku begitu menyadari sungguh bahwa ia merupakan  satu – satunya komponen alam yang mempunyai tugas paling vital, memberi penghidupan, penerangan dan penghangat bagi seluruh makhluk yang menggantungkan hidup terhadapnya di tempat yang biasa kita sebut dengan planet bumi dalam sistem tata surya kita  ini. Saat ini, aku tidak sedang mendapat segepok hadiah berjuta – juta rupiah dari sebuah undian lotere tak sengaja, tidak juga karena sedang di mabuk oleh racun cintanya sang Dewi Amor, ataupun lebih -lebih karena merasakan buah nikmatnya dari hasil kerjaku selama 3 tahun lebih dengan diangkatnya menjadi karyawan tetap dari status karyawan kontrak (outsourching). Tidak satu dan yang lainya. Tetapi aku, saat ini begitu terperi  sebagaimana semua alam merasakan rasa bahagiaku, menjadi saksi akan dimulainya pencapaian satu impian terbesarku bahkan setelah beberapa tahun berlalu. Ya, hari ini aku mulai kuliah lagi dan menyandang satu status lagi selain sebagai karyawan pabrik PT Surya Keramik Indonesia yaitu sebagai mahasiswa di salah satu sekolah tinggi ilmu administrasi di Banten. Memang ini baru suatu permulaan, pikirku. Tapi suatu permulaan yang bagus untuk mewujudkan kembali cita – cita hidup yang telah lama terpatri, mendarah daging dan tak akan lekang oleh lajunya zaman. Terima kasih ya Allah, aku bersyukur padaMu atas semua karuniamu.

*          *          *

Maka sore itu, seetelah pulang kerja harian yang biasanya lemah tak berdaya, kehabisan tenaga setelah bekerja seharian hampir 9 jam hilang sudah, semua raib entah kemana tertutup oleh semangatku yang lagi membara, semangat yang telah bertahun lamanya mencampakkanku yaitu semangat mengejar pendidikanku yang telah tertinggal. Semua siap, baju rapi ala mahasiswa baru, sedikit minyak wangi dan sentuhan gel minyak rambut mewarnai penampilan baruku setelah menanggalkan seragam kerja kebesaanku yang memang benar kebesaran. Akupun berangkat dengan tas tenteng hitam besarku yang sebelumnya paling – paling aku gunakan ketika musim mudik kampung tiba.

*          *          *

Kulambaikan tangan kanan dengan gerak perlahan untuk memberhentikan laju angkot, kemudian naik pas di depan jalan aspal, depan kontrakanku. Aku duduk di pojok kanan belakang sehingga bisa memperhatikan laju – laju kendaraan lainya di belakang angkot yang umurnya pasti sudah tua, lebih tua dari umurku saat ini. Terbukti sang angkot sering terbatuk – batuk jika memulai starter ulang dan ketika mengerem hendak berhenti. Lebih parahnya sang sopir sebagai kemudi utamapun usianya tak lebih muda  dari angkotnya ini. Harus mengetuk atap angkot dengan keras plus disertai teriakan yang kencang bila benar – benar mau memberhentikanya, maklum sang sopir pendengaranya agak  sedikit tergganggu walaupun si oknum masih mengaku pendengaranya masih setajam sang  kelelawar malam. Ya  kelelawar malam yang lan – sia ( Lanjut Usia).

*          *          *

”Srett” Bunyi gesekan ban depan yang mulai menipis tergerus aspal ketika pak tua mengerem mendadak, knalpotpun belakangpun terbatuk – batuk parau hingga bergoyang – goyang turun naik. Akupun tersadar ternyata pak Tua kebablasan telah melewati jembatan untuk memberhentikanya, Ia tak mendengar seruanku untuk berhenti apalagi ketukanku yang menggaung lebih tiga kali. Akupun tersenyum kecut ketika memberikan uang lecek dua lembar ribuan kepadanya. Sang sopir angkotpun terseyum tulus menyadari kelalaianya sehingga memperlihatkan kedua gigi depanya yang ompong. Aku jadi ragu untuk memarahinya tetapi malah hampir tertawa ketika melihatnya.

*          *          *

Sebuah bangunan cantik berlantai tiga mengundang mata, menusuk mataku memintaku untuk sesegera memelotototinya. Dengan bercat merah dilantai pertama diselingi garis – garis horizontal melintang mengelilingi dilantai dua dan hiasan puncak cat biru cerah agak tua di lantai tiga tepat  kira – kira 50 meter lagi di depanku. Merupakan gabungan dua ruko yang menyatu. Itulah kampusku. Kampus baruku yang akan menjadi tempat belajarku. Disampingnya merupakan deretan ruko yang saling mengait satu dan yang lainya, disebelah kananya sebagai sebuah toko serba ada, serba ada dalam makna yang sebenarnya karena selain sebagai tempat makan, juga ada tempat fotokopi, makanan -makanan kecil dan peralatan perkuliahan. Sesudahnya berlanjut satu ruko kecil spesialis tempat makan soto tangkar yang nikmat dengan harga yang murah meriah bagi kantong para mahasiswa dan ada juga sebuah counter pulsa menutup deretan utama disamping kampus kami. Maksudku kampus itu, perasaan itu terbawa karena terasa senangnya. Berbelok ke belakang ada sebuah cabang bank swasta elite dan lembaga kursus bagi para anak SMA yang bergandengan erat satu dan yang lainya seakan tak mau di pisahkan karena mereka dilahirkan dalam waktu dan oleh tangan pembuat yang sama.

*          *          *

STIA Banten itulah nama kampus itu. Pasti seseorang pun tak akan tahu ketika ditanya itu sekolah yang mana, memang ada sekolah tersebut atau letaknya dimana. Baru semester tiga aku baru akan menjalaninya karena harus melewatkan dua semester awal pertama kuliah di sebuah Lembaga Pengembangan Profesi Indonesia atau yang lebih dikenal dengan istilah LP3I. Itulah perjanjian yang menguntungkan dari kedua instansi pendidikan tersebut. Dari sebuah periklanan sebuah lembaga tersebut kini menjamur sampai ke pelosok – pelosok kota. Sekitar 50 meter kearah depanya berdiri dengan kokoh namun begitu angkuh nan megahnya sebuah bangunan empat lantai sebagai tempat perbelanjaan dengan sebuah nama yang familiar yang banyak dikira dari bahasa inggris namun ternyata dari bahasa negerinya sang Napoleon Bonaparte, negeri bermenara Eiffel yaitu CARREFOUR. Bangunan  itu berdiri dengan terbentang luas didepannya sebuah tempat parkir dengan pohon jarang – jarang seperlunya sebagai pembatas parkir. Sangat luas sekali tempat berparkirnya berpuluh – puluh kendaraan beroda empat. Tempat sekarang aku berjalan, melewatinya menuju ke tempat kampus baru itu tepat searah dengan mataku.

“Permisi Mbak?” Sapaku dengan senyum manis terlatihku sesudah membuka sebuah pintu kaca itu. Sesosok wanita paruh baya sekitar tigapuluh lebih, berambut sebahu menoleh kearahku dengan tatapan agak bingung namun berusaha untuk ramah melalui rona mukanya.

“Oh Ya. Silahkan masuk!!” Jawabnya sambil mempersilahkankanku masuk dengan kode gerakan lembut tanganya.

“Saya Dodo mbak Sita!” Mukanya masih terlihat kebingungan.

“Dodo Wiyono, yang hari sabtu kemarin. Saya jadi kuliah disini”. Senyumnyapun kemudian merekah di bibirnya, kebingungan sebelumnya sirna berganti dengan sebuah ingatan akan sesuatu, yaitu tentang diriku.

“Sekalian  registrasi?” Iapun kemudian mengangguk setelah mengatakan oke dan mempersilahkan duduk sebelumnya.

“Oh…Kamu Do Mbak sedikit lupa nih” Katanya sambil mencari – cari sebuah blangko registrasi kemudian memberikanya kepadaku.

“Kemarinkan rambutmu sedikit gondrong pas kesini, tiba – tiba saja  plontos

seperti ini jadi Mbak agak pangling tadi. Siapa ya…” Ceritanya panjang lebar seakan tanpa mau di potong olehku. Perkataanya ramah nan memikat khas staf –staf kampus untuk memikat mahasiswa baru. Walaupun agak gemuk tapi dengan sensualitasnya, sedikit polesan make up dan gaya bicaranya yang khas pasti ia akan cepat mendapat mangsa – mangsa mahasiswa baru yang belum atau tidak kemana arah pendidikan masa depan atau bahkan tak punya pilihan. Aku adalah satu korbanya saat ini.

*          *          *

Setelah proses pendaftaran, registrasi dan segala hal lainya selesai kemudian mbak Sita memperkenalkanku dengan Bp Han yang tingginya tak lebih dari 165 cm, beliau berpotongan agak pendek yang dimanipulasi dengan kemeja garis – garis vertikalnya, berpadu celana kain coklat dan disempurnakan dengan sepatu kinclong ala pantofel yang membungkus kedua kaki gempalnya. Kemudian beliaupun mengambil alihku dari staf cantik tadi, untuk menemaniku, sekedar melihat – lihat ruangan dan memperkenalkanku dengan para staf kampus lainya.

*          *          *

Dilantai 2 aku kemudian diperkenalkan dengan Bp Muhamad Nurdin bagian pendidikan, Bp Manurung Simanjuntak bagian Staf operasional dan Bp William Peter yang bagian keuangan serta tak lupa  dengan staf administrasi cantik berkerudung biru laut dengan tahi lalat di bawah dagu sebelah kirinya  Mbak Anita puspita. Dengan mengulurkan tanganku disertai menyebutkan namaku sebagai tanda salam perkenalan kepada mereka,  mereka semua bersahabat, malah sangat bersahabat dan ramah dengan mahasiswa baru sepertiku yang mempunyai status lain sebagai kuli pabrik nan hanya kontrak di salah satu pabrik keramik di Indonesia.

“Do!” Kata beliau seraya menghentikan putaran lamunanku seketika .

“Di lantai 3 ini ada toilet mahasiswa di samping kiri tangga ini, musolla di sebelah kanan ini dan tempat Pingpong di ujung sana!” Matakupun melihat melewati arah yang ditunjukkan oleh telunjuk pak Han.

“Jadi, semoga kamu bisa memanfaatkan dan menjaga semuanya ini dengan

maksimal!” Kata beliau sambil berpesan semoga saja aku betah untuk belajar di kampus ini. Akupun mengangguk menyetujuinya. Setelah menjelaskan semuanya beliaupun kini meninggalkanku sendirian di lantai atas ini karena ada urusan lainya, sehingga akupun melanjutkan pengamatanku ke setiap sedut ruangan yang nantinya akan menjadi tempat belajarku ini dan sekaligus melihat pemandangan  outdoor yang dapat aku saksikan dari sebuah jendelan yang tertempel di dinding bercat krem itu. Lumayan indah melihat sesuatu dari atas itu. Seru pikirku.

*          *          *

Sesaat kebimbanganku merayap ke tubuhku. Sempat aku merasa tak percaya bahwa aku benar – benar berdiri di tempat ini, di kampus ini, tempat aku menuntut ilmu nantinya, mengembangkan semua kemampuan dan mulai meraih impian. Dan…semuanya akan kumulai hari ini. Hari ini…Oh. Padahal sekitar 3 tahun sebelumnya aku salah satu pecundang besar untuk mengambil resiko sekecil apapun itu, bulan sebelumnya, sebelum aku untuk memutuskan kerja seraya kuliah. Karena itu adalah sebuah keputusan yang teramat besar bagiku mengingat fisikku yang kurus kering seperti pohon singkong meranggas sudah sering kelelahan,   menahan rasa beban kerja yang berat, benar – benar berat ukuranku apalagi nanti aku mengambil kuliah pikirku waktu itu. Membayangkan saja aku tak mampu untuk semuanya itu. Jadi beberapa bulan bahkan dalam hitungan flashback tahun – tahun yang lalu hanya aku lalui dengan suatu rutinitas yang hampir sama bahkan seakan mengulang, melalui sebuah puzzle kehidupan yang itu – itu saja. Pagi mulai kerja ketika matahari baru muncul sekilas memperlihatkan wajah paginya, sorenya pulang ke kontrakan, dan menonton siaran televisi yang tak mendidik bahkan membodohkan para pemirsa terutama anak – anak dibawah umur yang hanya berisi omongan sana – sini tanpa isi. Dan kalau sempat sesekali membaca koran atau apalah yang kira – kira bisa mengisi waktu yang kosong. Ya hanya sekedar mengisi waktu, tetapi apakah hidup hanya sesederhana itu, sesimpel itu padahal seorang insan pasti diciptakan karena ada suatu tujuan dari sang khalik. Pikrankupun sempat beberapa kali bahkan lebih sering ketika tiap malam – malam tertentu aku menderita insomnia, selalu berpikir membaca melulu tetapi ada sesuatu yang kurang, hal yang ganjil nan sesuatu yang mengganjal untuk apa itu semua aku membaca tiap hari kadang bahkan tiap waktu. Saat itulah otakku berada dalam pusaran bintang – bintang kecil yang saling berkejar – kejaran tanpa henti tapi tanpa arah dan tujuan.

*          *          *

Suatu ketika,

“Do, membaca melulu, mengaapa tidak sekalian kuliah ?” Kata Alif teman satu kontrakanku yang aku bahkan tak menyangka pertanyaan itu akan muncul darinya. Seketika pertanyaan itu menohokku dengan tepat kepusat otakku sehingga membuatku diam sejenak, tak bisa berkata apapun. Yang kulakukan hanya memperhatikanya yang baru pulang kerja, dan mengawasiku dari tadi ketika aku sedang terjerembab dalam sebuah buku bacaan motivasi diri.

“Bukankah dengan kuliah, membaca manfaatnya akan lebih di dapat!” Lanjutnya bahkan sebelum aku menjawab pertanyaanya yang pertama, dan belum menemukan kenapa aku seketika merasa seperti tertampar oleh pertanyaan tadi. Dan kini otakkupun mulai mengirimkan sinyal – sinyal itu, seketika aku tersadar kembali seakan baru saja ditinggal rohku sementara untuk bertamasya sebentar. Dan aku berpikir benar juga ya katanya, kata dari seorang buruh kontraktor pabrik sama di PT SKI hanya nasibnya yang tak lebih beruntung sedikit dariku. Maklum seorang kontraktor yang gajinya belum UMK.

*          *          *

Setelahnya selama berminggu – minggu bahkan berlari dalam hitungan bulan aku kesana-kemari, ke pelosok kota Tangerang dari ujung ke ujung sampai kebingungan menderaku bertalu – talu. Hanya satu tujuanku, mencari informasi kampus untuk kuliah yang terjangkau. Di kota ini hanya 2 universitas yang bertengger dan selebihnya hanya sebuah sekolah – sekolah tinggi dan lembaga – lembaga yang patut di tanyakan keberadaan. Jadilah aku terdampar di suatu Sekolah tinggi ini karena tiga hal pokok yang tak dapat di tawar lagi, pertama lokasinya yang dekat dengan pabrik paling hanya 7 menit hanya dengan angkot, kedua jadwalnya yang fleksibel bagi  seorang pekerja shif kambuhan kadang kerja malam atau pagi dan ketiga pastinya ini yang sebenarnya tak mampu  aku pikirkan lagi biayanya yang dibawah standar dari kampus yang lain walaupun bagi seorang kuli sepertiku masih saja terlalu mencekik leher. Untuk makan esok hari saja harus benar – benar di perhitungkan. Namun semua keraguan dan ketakutan yang sempat merasukiku dan membuatku hampir berhenti berharap kini hilang sudah menguap bagai asap yang keluar dari cerobong pabrik – pabrik itu. Ternyata ada sebuah sinar keberanian yang muncul dari dalam diriku, merengkuh, mendorong untuk terus mengikuti kemana jalanya sinar terang tadi melalui kata naluri hatiku. Dan pikiranku tetap saja terhenti sejenak ketika aku memikirkan ini semuanya. Ya menempuh pendidikan setinggi mungkin, di tempat ini, tempat dimana sekarang aku berdiri benar – benar mematung diri. Pilihanku telah tertambat disini, paling tidak untuk sekarang ini. Berbagai lintasan pikiranku tadi ternyata telah membuatku tak sadar bahwa telah banyak mahasiswa dan mahasiswi yang lalu – lalang, mondar – mandir kesana kemari ketika aku masih terpaku memandang pemandangan outdoor melewati jendela walau pikiranku sedang berkelana jauh melampaui jauhnya jangkauan pandanganku di ujung parkir di depan CARREFOUR di sana.

*          *          *

Mereka semua berpakaian rapi, sampai aku tertegun ketika mataku bertemu pandang dengan salah satunnya. Ada yang hendak ke musolla karena sang maghrib hampir tiba, ada yang ke toilet dan ada yang hanya sekedar ingin main pingpong di ujung ruangan yang baru kumasuki tadi dengan Bp Han. Mereka semuanya memakai pakaian formal jas dan celana kain bagi mahasiswa dan rok kain dengan warna yang senada, Inilah tempat –tempat orang yang intelek pikirku sejenak ketika ingatanku kembali membandingkan dengan teman – temanku sesama kuli pabrik dengan pakaiaan seragam yang tak di gilas seterika, tak memakai ikat pinggang nan diperparah dengan kotoran yang seakan mereka acuh karena itu adalah teman karibnya sampai saat ini. Sesekali mereka menoleh kearahku, aku tahu dari sudut mataku, bahkan beberapa kaum hawa cekikikan tanpa risih, bergerombol mencuri – curi pandang kearahku. Sesaat kepercayaan akan pesonaku meninggi, namun ketika tak semuanya memberi respon serupa bahkan ada yang melayangkan tatapan tak kumengerti, dengan tak ramah menyiratkan siapa peduli. Yah tatapan – tatapan seperti terakhir itu pasti muncul, setelah ku tahu bahwa pakaian ku yang memang beda dari mereka. Mungkin mereka pikir, Siapa  makhluk asing ini, kepala lontos, dengan seragam nyleneh yang tak seirama dengan komunitas mereka  itu. Merekapun sebenarnya tahu jawaban itu, mahasiswa baru pastinya.

*          *          *

Karyawan dan mahasiswa itulah profesiku yang membahagiakanku sekarang ini. Karena amat jarang yang bisa mempunyai keduanya, atau bahkanpun salah satunya. Tapi bagaimana caraku untuk memberikan bandul keseimbangan keduanya, kini keyakinanku memudar memikirkanya. Aku tersenyum sendirian, otakku berbisik aku pasti bisa, bisa kapan membagi waktu kapan harus bekerja dan kapan harus belajar walaupun itu pasti tak akan mudah untuk kulakukan tapi bukankah sampai saat ini aku juga telah mempunyai bandul – bandul penyeimbang tadi, semuanya telah berada dalam gengaman keyakinanku saat ini. Khayalankupun mulai mempermainkanku, membayangkan bahwa aku bisa menjadi  karyawan yang tak biasa tak hanya bermodal otot belaka karena memang benar aku tak mempunyai otot yang kekar itu. Menjadi seorang karyawan yang mampu berpikir lebih jauh, sesuatu yang inovatif, berwawasan luas dan akhirnya mampu memegang kewajiban yang besar yang telah menunggu di pintu masa depan, yang tak hanya kerja, kerja dan kerja yang biasa saja. Dan sebagai mahasiswa aku ingin melakukan, menembus batas – batas penghalang, dan melewatinya bahwa dalam belajar itu tak mengenal batas waktu. Pastinya bisa di capai tanpa harus membebankan semua beban – beban keuangan yang makin lama – makin menggunung  kepada sang pemberi nama ketika kita lahir ke dunia, karena mereka, hanya mempunyai beberapa lembar uang untuk makan sekarang saja amat kurang ataupun hanya mempunyai sebukit sawah penopang hidup, bukan gunung – gunung uang itu. Karena tak semua orang tua itu seorang Gubernur     yang mampu menyekolahkan anaknya ke luar negeri walaupun dengan segepok uang sogokan agar anaknya ditterima karena sang anak yang tidak mempunyai kemampuan standar, bahkan dibawah standar karena tak mampu membedakan  pengucapan antara Smell dan Smile sehingga ketika hati bermaksud mengucapkan senyum anda berubah makna menjadi bau anda. Semua pasti bisa kulalui, dapat kuhadapi, bekerja untuk mendapatkan sebuah penghasilan sendiri, yang dapat di gunakan untuk menjadi pilar penopang jalanya pendidikan yang sedang di raih. Karena pendidikan tak boleh terhenti dengan adanya suatu ganjalan kecil, alasan klasik, yang mampu membabat  mati mimpi – mimpi kita dimasa yang akan datang yaitu alasan tak ada biaya.

*          *          *

Tak ada biaya. Tak ada biaya untuk kuliah. Kemudian tanpa terasa air mataku mengalir perlahan ketika mengingat kata – kata itu. Masa itu, ketika mereka, kedua orang tuaku berucap, “Ya tak ada biaya untuk kuliah Do….”* * *

| Leave a comment

Anak Betawi meraih mimpi di “Negeri Kincir Angin”

Belakangan ini aku masih saja terpukau dengan seorang anak betawi lugu, penuh jenaka tetapi begitu inspiratif. Sebenarnya dia adalah salah satu tokoh dalam sebuah buku yang baru saja selesai kubaca. Negeri Van Oranje. Sebuah buku inspiratif yang tanpa sengaja aku membelinya ketika sebuah pagelaran Book fair di Gelora Bung Karno, Senayan. Tanpa terduga isinya begitu menakjubkan, memberiku sebuah inspirasi, sebuah harapan baru untuk pendidikanku S2 nantinya. Salah satu tokoh itu masih saja terngiang, dengan kesederhanaanya yang mampu meraih mimpi terbesarnya, meraih Master di “Negeri Kincir Angin”. Ingin hati rasanya mengikuti jejaknya, apalagi S1-ku yang akan selesai segera dalam hitungan bulan. S2 ke Negeri Belanda, mengapa tidak ?? Itu bukan hal yang Impossible. Buku itu dan tentu saja tokoh itu masih saja menjadi inspirasiku, sampai saat ini.

Alkisah,

Anak betawi tersebut bernama lengkap Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, seorang putra Betawi asli dari Jakarta. Lebih dikenal dengan panggilan Daus. Dia berasal dari Gang Haji Sanip, Kelurahan Prumpung, Cipinang. Orang tuanya PNS golongan 2 di pasar Enjo, Cipinang.

Ketika usia remaja, Daus merupakan seorang penggila akut novel John Grisham, dan semenjak itu pula dia resmi bercita – cita ingin menjadi seorang pengacara Litigasi. Dia bekilah, “Kalau hanya masalah bersilat lidah, putera asli Betawi tidaklah kalah dengan para pengacara tanah Batak yang sering berkeliaran di TV. Bukankah Betawi juga terkenal mahir beradu pantun..”. Berbekal sebuah impian itu, akhirnya Daus tembus UMPTN di sebuah fakultas hukum di Universitas Indonesia.Pilihan yang tepat sekali.

Walaupun Daus sangat berminat menjadi seorang pengacara, tetapi akhirnya karena desakan engkong tercintanya (Seorang alumni pesantren Tebu Ireng) mimpinya berlabuh jauh dari dermaga awalnya, yaitu justru terdampar di Departemen Agama. Statusnya pun berubah menjadi Firdaus Muythoyib, S.H, PNS golongan 3A Departemen 3A. Seorang mediocore goverment ambtenaar, dia seolah tenggelam di balik kompleksnya birokrasi rumit Departemen Agama. Diapun menjadi staf Direktorat Jenderal Bina Masyarakat islam. Benar – benar salah tempat.

Setelah reuni tahunan almamater UI, Daus begitu terperangah ketika teman seperjuanganya ketika di kampus kuning itu hampir semuanya benar – benar berhasil menjadi pengacara sungguhan. Sesuai Impianya. Hanya dia yang benar – benar telah melenceng, terlempar dan akhirnya terjerembab dalam seragam PNS nya. Dari berbagai cibiran, bahkan sindiran yang terang – terangan yang ditujukan kepadanya, membuatnya langsung tersadar kembali. Dia semakin bertekad kuat mengejar mimpinya. Menjadi seorang pengacara, sungguhan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari beasiswa master di luar negeri.

Dan, kesempatan itupun datang. Beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands) dari Depag. Ketika karyawan lainya lebih memilih naik haji gratis atau kuliah ke Al Azhar Kairo hanya untuk mempercepat jenjang karir, Daus menang mutlak dalam seleksi beasiswa STUNED, karena tiada saingan karyawan Depag lain yang cukup “gila” untuk melamar sepertinya. Dia tak ragu kembali, dan langsung memilih Human Rights Law di Uthrect, sesuai mimpinya. Walaupun sebuah julukan Yahudi – Zionis- Barat pernah melekat pada jurusan yang dipilihnya, terlebih di negeri kompeni, Daus tak menggubrisnya karena dia paham betul akan misi mulia hak asasi manusia yang tentu tidak berpengaruh terhadap julukan tak berdasar itu.

Dauspun lulus dengan mudah dari ketua panel penguji program beasiswa STUNED, berbekal sebuah impian yang besar meraih mimpi di negeri kincir angin. Walaupun dia harus merelakan motor bututnya dengan hanya senilai tiga setengah juta, tidak lebih setelah bernegosiasi panjang nan melelahkan di bawah pohon jambu.. Semua demi menambah uang sakunya yang pas – pasan. Enkongnyapun akhirnya merestuinya, walaupun beliau mengetahuinya bahwa Daus menuntut ilmu ke negeri Cina (sesuai pepatah Islam). Daus pun berbinar riang, semangatnya meluap. “Siapa bilang anak Betawi tidak bisa sekolah sampai keluar negeri, Nedherlands…..I love U,and Europe…here I come” Katanya.

UTHRECT

Sebuah bangunan besar berpagar besi bediri dengan pongahnya menunjukkan gaya klasik arsitekturnya. UCU, University Campus Uthrect, dengan gaya klasik, lapangan luas dan asrama mahasiswa yang fasilitasnya menyaingi apartemen luks di Jakarta. Kampus Uthrect berdiri dengan keindahanya seolah ingin menyaingi Harvard atau Pricenton Amerika. Dan sebuah monumen seni berlambang seperti matahari berdiri. Seperti sebuah filosofi bahwa Uthrect akan memancarkan ilmu kepada semua mahasiswa yang belajar di sana.

Setiap hari Daus mengayuh sepedanya, sepeda tua berkelir hitam namun sudah dilengkapi dengan percepatan gir otomatis. Sesuatu yang jarang dilakukanya di Gang Haji Sanip belakangan ini. Daus teringat ketika semasa perjuangan SMP, yang suka bersepeda ria.

Daus setiap hari menelusuri Jalan utama Oudegraag, dengan kanan kirinya berderet toko toko khas Belanda. Dia begitu optimis setiap harinysa, ketika matanya menyapu pemandangan indah ini. Walaupun sebelumnya dia seorang PNS, dengan sepeda motor, dengan seragam plus jabatan yang lumayan, tetapi sekarang seolah namun benar – benar berubah, bukanlah siapa – siapa di negeri orang. Dan kini meski dengan jarak 14 kilometer setiap hari pulang pergi anehnya dia begitu menikmatinya. Demi sebuah mimpi. Kemudian Dia menikung di ke Jalan Janskerhooft, dan di Drift 13, diapun berhenti. Sebuah bangunan tua bergaya klasik dengan gagahnya bertengger, lengkap dengan menara tinggi berhiaskan jam besar berlapis emas.

Di Uthrect Daus begitu terperangah hampir pingsan ketika melihat fasilitas kampus yang berupa sebuah ruangan LLM room, sebuah fasilitas mewah yang disediakan Universitas Uthrect untuk mahasiswa LLM, pasca sarjana hukum. Di tempat istimewa ini terdapat 6 komputer flat screen untuk belajar, jatah print out hingga 1000 lembar perbulan. Dilengkapi dengan ruangan meeting, 2 sofa empuk, 25 locker dan juga satu cofee machine. Sebuah ruangan yang tidak kalah dengan executive lounge di bandara. Dan sebuah pemandangan indah yang menghadap ke jalan menyempurnakanya sekaligus.

Selama di Uthrect Daus terbiasa belajar ekstra atau lebih tepatnya extra belajar, dengan tugas yang ekstra pula, bahkan “The most Extra” selama dalam perjalan kuliah selama hidupnya. Seperti dalam satu minggu dia harus membaca 5 artikel ilmiah di jurnal, dua bab referensi, 10 kasus Europan Court of Human Rights. Terkadang Dia harus menambah ekstra keras belajar plus, seperti dikala LL room tertutup karena jam usai dia melaju ke tempat alternatif kedua, The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan besar di kampus Uthrect Uithof, rumah bagi fakultas – fakultas ilmu eksak dan medik. Bagian – bagian Universitas Uthrect memang tersebar di berbagai penjuru kota, tidak hanya satu lokasi saja.

Di The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan terbesar di Belanda itu terdapat sebuah dukungan teknologi yang menjadi kebanggaan warga Uthrect. Sesuatu yang mendukung untuk belajar, di tempat yang tepat, kata Daus. Di perpustakaan ini dilengkapi dengan komputer bermonitor LCD 19 inci dalam jumlah besar dan akses wifi, koleksi bukunya super lengkap dan ditambah sensor keamanan. Dan untuk tempat beristirahat dengan bantal – bantal yang besar nan nyaman, bangunan lima lantai ini sangat ideal untuk keperluan riset dan belajar. Daus setiap hari, selalu bergelut dengan tempat- tempat seperti ini, karena dia yakin tidaklah mungkin gelar LLM dapat di rengkuh tanpa pengorbanan.

Terkadang untuk waktu senggang Daus akan berkeliling Uthrect, hanya sekedar untuk melihat banyaknya pemandangan yang begitu memukau.. Seperti UTHRECT CENTRUM, pusat perbelanjaan terbuka mirip Cihampelas Walk Bandung. Juga sebuah Dom Tower, landmark terkenal kota Uthtrect yang dulunya sebuah gereja besar, yang bangunan aslinya runtuh hingga tertinggal sebuah menara tersebut.

Thesis

Dengan adanya berbagai motivasi kuliah, maka berbagai motivasi pula bermunculan terhadap pembuatan sebuah Tesis. Sebuah kewajiban yang sulit, kebanyakan menganggap seperti itu. Atau memang seperti itu sebenarnya. Tetapi bagi anak betawi gang Haji Sanip ini berbeda. Sangat berbeda

Karena kecintaanya kepada ilmu hukum, sebuah impian terbesarnya semenjak dahulu ketika di UI, Daus berprinsip lain. Dia memandang Tesis adalah sebuah mahakarya yang harus diukir dengan sungguh – sungguh. Dia selalu berkeinginan untuk menjadi sosok peneliti yang tekun.
Dia ingin menyandang titel LLM, master bidang hukum dan betul – betul ingin bergelut sebagai praktisi hukum. Bukan terdampar dalam carut marut birokrasinya Depag.

Daus selalu berhasil mendapatkan jurnal – jurnal yang sudah terdokumentasikan dengan canggih dalam bank digital semacam Lexis, West Law, atau JSTOR, dan juga pertolongan gratis dari para Ph.d, kenalanya. Semua karena kepandaian dalam berkoneksi rianya.

Dalam hal riset, Dauspun tak kalah mengejutkan, dia sebagai satu – satunya mahasiswa yang dirujuk kepada profesor nyentrik, salah satu pakar terkemuka kelas dunia dalam bidang yang menjadi topik penelitian Daus. Sang Profesior bahkan merelakan perpustakaan pribadinya di obrak – abrik oleh seorang anak gang Sanip itu. Perpustakaan pribadi terlengkap dan cukup spesifik dalam bidang hukum.

Bahkan terkadang Daus juga sering menjadi Library crawler, dia melenggang jauh ke berbagai forum konferensi hukum international. Dengan modal nekat plus status mahasiswa hukum Uthrect yang cukup ternama di Eropa (No. 1 di Belanda, no 5 di Eropa dan no 40 sedunia) plus dosen praktisi HAM dunia terpandang, membuatnya begitu mudah untuk mendapatkan akses murah untuk mengikuti konferensi tingkat dunia, dan akhirnya membawa pulang bahan – bahan internasional terbaru, dalam dokumen maupun dalam bentuk hasil diskusi tatap muka dengan oknumnya langsung.

Seperti di di Konferensi Internatinal Human Right Law di Luxembourg, misalnya. Soal pembahasan pelanggaran HAM di Timor Leste, Dia adalah satu – satunya orang Indonesia di forum itu. Sang mahasiswa doktoral di meja penyaji makalah yang Swiss tulen bahkan belum pernah ke indonesia, hanya dengan data internet saja dia membahasnya. Daus mulai beraksi, memaparkan pengetahuan riilnya soal hukum pidana Indonesia di Timor Leste yang kacau balau, dan dengan pengetahuanya itu Daus menjadi satu – satunya sumber authority yang di akui lainya. Semua hanya pasrah, manggut – manggut di buatnya.

Suasana di Belanda memang sungguh membantunya dalam Tesis terbesarnya, seperti budaya akademik Eropa yang membantu dan memudahkan riset, seperti saat break dari seminar. Daus dalam waktu seperti itu dapat berdiskusi dengan sang profesor yang selesai menyajikan makalah, dan kemudian menceritakan topik penelitianya. Dan dengan spirit yang sama -sama membara dalam meneliti ilmu, kemudian bertukar email, dan korespendensi bahan – bahan terbaru yang saling menunjang.

Honorable Mention

Wisuda master berjalan. Sesuai target Daus, bahkan sangat ideal, tiada yang mundur sama sekali. Sebuah usaha yang yang sungguh – sungguh memang tiada yang sia – sia. Our God never sleep.
Berbagai rentetan pujian mengalirderas ke Daus dan di akhiri….”That you have developed here in Uthrect into a competent legal researcher and you get an honorable mention”.
Firdaur Gojali Muthoyib, begitu terharu, sempat berkaca – kaca atas berbagai hasil yang di capainya yang merupakan klimaks dari segala upaya belajarnya selama ini. Memang bukan summa cum laude (Lulus dengan nilai kuliah sangat tinggi) tetapi Predikat Honorable Mention adalah suatu penghargaan tertinggi untuk nilai Tesis terbaik, bahwa penelitian yang dilakukan oleh Daus memanglah berbeda dan sangat mengagumkan. Predikat tersebut tersematkan kepada anak gang Haji Sanip, anak betawi itu.

Sebuah gelar yang telah lama diinginkanya tersemat. LLM (akronim dari Legum Master). Namun ada juga yang menjabarkanya Lex Legibus Magistri tetapi sekarang lebih terkenal sebagai Master of Law. Sebuah gelar yang dianggap oleh bangsa Yunani dulu mampu menguasai hukum dunia dan juga hukum langit namun sekarang lebih spesifik dalam satu bidang saja. Negeri Van Oranje menyebutnya Mester in d Retchen, the man who can change the law. Dan Uthrect merupakan Universitas yang memang mempunyai keunggulan dalam jurusan hukum tersebut.

Akhirnya sang anak gang Haji Sanip benar- benar telah mewujudkan mimpinya, meraih master hukum di Uthrect. Inspiratif. Daus, sang anak betawi meraih mimpi di negeri kincir angin.

…..

Sebuah buku itu, Negeri Van Oranje kini mulai menyeret mimpiku ke sana, serupa Daus. Ya, aku sudah berkeputusan bulat. Aku ingin meraih master pula di negara Oranje itu. Kisah inspiratifnya telah membiusku. Tahun 2011 akan menjadi pembuktian semuanya itu. Siapapun pasti bisa, termasuk aku sendiri untuk menjadi “The next Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri”.

http://dodothenextauthor.wordpress.com/

Sumber gambar :
1. data:image/jpg;base64,/9j/4
2. http://farm4.static.flickr.com/3154/3069872958_77808621f2.jpg?v=0
3. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5e/Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg/220px-Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg



Posted in peserta | Leave a comment

Anak Betawi meraih mimpi di “Negeri Kincir Angin”

Belakangan ini aku masih saja terpukau dengan seorang anak betawi lugu, penuh jenaka tetapi begitu inspiratif. Sebenarnya dia adalah salah satu tokoh dalam sebuah buku yang baru saja selesai kubaca. Negeri Van Oranje. Sebuah buku inspiratif yang tanpa sengaja aku membelinya ketika sebuah pagelaran Book fair di Gelora Bung Karno, Senayan. Tanpa terduga isinya begitu menakjubkan, memberiku sebuah inspirasi, sebuah harapan baru untuk pendidikanku S2 nantinya. Salah satu tokoh itu masih saja terngiang, dengan kesederhanaanya yang mampu meraih mimpi terbesarnya, meraih Master di “Negeri Kincir Angin”. Ingin hati rasanya mengikuti jejaknya, apalagi S1-ku yang akan selesai segera dalam hitungan bulan. S2 ke Negeri Belanda, mengapa tidak ?? Itu bukan hal yang Impossible. Buku itu dan tentu saja tokoh itu masih saja menjadi inspirasiku, sampai saat ini.

Alkisah,

Anak betawi tersebut bernama lengkap Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, seorang putra Betawi asli dari Jakarta. Lebih dikenal dengan panggilan Daus. Dia berasal dari Gang Haji Sanip, Kelurahan Prumpung, Cipinang. Orang tuanya PNS golongan 2 di pasar Enjo, Cipinang.

Ketika usia remaja, Daus merupakan seorang penggila akut novel John Grisham, dan semenjak itu pula dia resmi bercita – cita ingin menjadi seorang pengacara Litigasi. Dia bekilah, “Kalau hanya masalah bersilat lidah, putera asli Betawi tidaklah kalah dengan para pengacara tanah Batak yang sering berkeliaran di TV. Bukankah Betawi juga terkenal mahir beradu pantun..”. Berbekal sebuah impian itu, akhirnya Daus tembus UMPTN di sebuah fakultas hukum di Universitas Indonesia.Pilihan yang tepat sekali.

Walaupun Daus sangat berminat menjadi seorang pengacara, tetapi akhirnya karena desakan engkong tercintanya (Seorang alumni pesantren Tebu Ireng) mimpinya berlabuh jauh dari dermaga awalnya, yaitu justru terdampar di Departemen Agama. Statusnya pun berubah menjadi Firdaus Muythoyib, S.H, PNS golongan 3A Departemen 3A. Seorang mediocore goverment ambtenaar, dia seolah tenggelam di balik kompleksnya birokrasi rumit Departemen Agama. Diapun menjadi staf Direktorat Jenderal Bina Masyarakat islam. Benar – benar salah tempat.

Setelah reuni tahunan almamater UI, Daus begitu terperangah ketika teman seperjuanganya ketika di kampus kuning itu hampir semuanya benar – benar berhasil menjadi pengacara sungguhan. Sesuai Impianya. Hanya dia yang benar – benar telah melenceng, terlempar dan akhirnya terjerembab dalam seragam PNS nya. Dari berbagai cibiran, bahkan sindiran yang terang – terangan yang ditujukan kepadanya, membuatnya langsung tersadar kembali. Dia semakin bertekad kuat mengejar mimpinya. Menjadi seorang pengacara, sungguhan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari beasiswa master di luar negeri.

Dan, kesempatan itupun datang. Beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands) dari Depag. Ketika karyawan lainya lebih memilih naik haji gratis atau kuliah ke Al Azhar Kairo hanya untuk mempercepat jenjang karir, Daus menang mutlak dalam seleksi beasiswa STUNED, karena tiada saingan karyawan Depag lain yang cukup “gila” untuk melamar sepertinya. Dia tak ragu kembali, dan langsung memilih Human Rights Law di Uthrect, sesuai mimpinya. Walaupun sebuah julukan Yahudi – Zionis- Barat pernah melekat pada jurusan yang dipilihnya, terlebih di negeri kompeni, Daus tak menggubrisnya karena dia paham betul akan misi mulia hak asasi manusia yang tentu tidak berpengaruh terhadap julukan tak berdasar itu.

Dauspun lulus dengan mudah dari ketua panel penguji program beasiswa STUNED, berbekal sebuah impian yang besar meraih mimpi di negeri kincir angin. Walaupun dia harus merelakan motor bututnya dengan hanya senilai tiga setengah juta, tidak lebih setelah bernegosiasi panjang nan melelahkan di bawah pohon jambu.. Semua demi menambah uang sakunya yang pas – pasan. Enkongnyapun akhirnya merestuinya, walaupun beliau mengetahuinya bahwa Daus menuntut ilmu ke negeri Cina (sesuai pepatah Islam). Daus pun berbinar riang, semangatnya meluap. “Siapa bilang anak Betawi tidak bisa sekolah sampai keluar negeri, Nedherlands…..I love U,and Europe…here I come” Katanya.

UTHRECT

Sebuah bangunan besar berpagar besi bediri dengan pongahnya menunjukkan gaya klasik arsitekturnya. UCU, University Campus Uthrect, dengan gaya klasik, lapangan luas dan asrama mahasiswa yang fasilitasnya menyaingi apartemen luks di Jakarta. Kampus Uthrect berdiri dengan keindahanya seolah ingin menyaingi Harvard atau Pricenton Amerika. Dan sebuah monumen seni berlambang seperti matahari berdiri. Seperti sebuah filosofi bahwa Uthrect akan memancarkan ilmu kepada semua mahasiswa yang belajar di sana.

Setiap hari Daus mengayuh sepedanya, sepeda tua berkelir hitam namun sudah dilengkapi dengan percepatan gir otomatis. Sesuatu yang jarang dilakukanya di Gang Haji Sanip belakangan ini. Daus teringat ketika semasa perjuangan SMP, yang suka bersepeda ria.

Daus setiap hari menelusuri Jalan utama Oudegraag, dengan kanan kirinya berderet toko toko khas Belanda. Dia begitu optimis setiap harinysa, ketika matanya menyapu pemandangan indah ini. Walaupun sebelumnya dia seorang PNS, dengan sepeda motor, dengan seragam plus jabatan yang lumayan, tetapi sekarang seolah namun benar – benar berubah, bukanlah siapa – siapa di negeri orang. Dan kini meski dengan jarak 14 kilometer setiap hari pulang pergi anehnya dia begitu menikmatinya. Demi sebuah mimpi. Kemudian Dia menikung di ke Jalan Janskerhooft, dan di Drift 13, diapun berhenti. Sebuah bangunan tua bergaya klasik dengan gagahnya bertengger, lengkap dengan menara tinggi berhiaskan jam besar berlapis emas.

Di Uthrect Daus begitu terperangah hampir pingsan ketika melihat fasilitas kampus yang berupa sebuah ruangan LLM room, sebuah fasilitas mewah yang disediakan Universitas Uthrect untuk mahasiswa LLM, pasca sarjana hukum. Di tempat istimewa ini terdapat 6 komputer flat screen untuk belajar, jatah print out hingga 1000 lembar perbulan. Dilengkapi dengan ruangan meeting, 2 sofa empuk, 25 locker dan juga satu cofee machine. Sebuah ruangan yang tidak kalah dengan executive lounge di bandara. Dan sebuah pemandangan indah yang menghadap ke jalan menyempurnakanya sekaligus.

Selama di Uthrect Daus terbiasa belajar ekstra atau lebih tepatnya extra belajar, dengan tugas yang ekstra pula, bahkan “The most Extra” selama dalam perjalan kuliah selama hidupnya. Seperti dalam satu minggu dia harus membaca 5 artikel ilmiah di jurnal, dua bab referensi, 10 kasus Europan Court of Human Rights. Terkadang Dia harus menambah ekstra keras belajar plus, seperti dikala LL room tertutup karena jam usai dia melaju ke tempat alternatif kedua, The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan besar di kampus Uthrect Uithof, rumah bagi fakultas – fakultas ilmu eksak dan medik. Bagian – bagian Universitas Uthrect memang tersebar di berbagai penjuru kota, tidak hanya satu lokasi saja.

Di The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan terbesar di Belanda itu terdapat sebuah dukungan teknologi yang menjadi kebanggaan warga Uthrect. Sesuatu yang mendukung untuk belajar, di tempat yang tepat, kata Daus. Di perpustakaan ini dilengkapi dengan komputer bermonitor LCD 19 inci dalam jumlah besar dan akses wifi, koleksi bukunya super lengkap dan ditambah sensor keamanan. Dan untuk tempat beristirahat dengan bantal – bantal yang besar nan nyaman, bangunan lima lantai ini sangat ideal untuk keperluan riset dan belajar. Daus setiap hari, selalu bergelut dengan tempat- tempat seperti ini, karena dia yakin tidaklah mungkin gelar LLM dapat di rengkuh tanpa pengorbanan.

Terkadang untuk waktu senggang Daus akan berkeliling Uthrect, hanya sekedar untuk melihat banyaknya pemandangan yang begitu memukau.. Seperti UTHRECT CENTRUM, pusat perbelanjaan terbuka mirip Cihampelas Walk Bandung. Juga sebuah Dom Tower, landmark terkenal kota Uthtrect yang dulunya sebuah gereja besar, yang bangunan aslinya runtuh hingga tertinggal sebuah menara tersebut.

Thesis

Dengan adanya berbagai motivasi kuliah, maka berbagai motivasi pula bermunculan terhadap pembuatan sebuah Tesis. Sebuah kewajiban yang sulit, kebanyakan menganggap seperti itu. Atau memang seperti itu sebenarnya. Tetapi bagi anak betawi gang Haji Sanip ini berbeda. Sangat berbeda

Karena kecintaanya kepada ilmu hukum, sebuah impian terbesarnya semenjak dahulu ketika di UI, Daus berprinsip lain. Dia memandang Tesis adalah sebuah mahakarya yang harus diukir dengan sungguh – sungguh. Dia selalu berkeinginan untuk menjadi sosok peneliti yang tekun.
Dia ingin menyandang titel LLM, master bidang hukum dan betul – betul ingin bergelut sebagai praktisi hukum. Bukan terdampar dalam carut marut birokrasinya Depag.

Daus selalu berhasil mendapatkan jurnal – jurnal yang sudah terdokumentasikan dengan canggih dalam bank digital semacam Lexis, West Law, atau JSTOR, dan juga pertolongan gratis dari para Ph.d, kenalanya. Semua karena kepandaian dalam berkoneksi rianya.

Dalam hal riset, Dauspun tak kalah mengejutkan, dia sebagai satu – satunya mahasiswa yang dirujuk kepada profesor nyentrik, salah satu pakar terkemuka kelas dunia dalam bidang yang menjadi topik penelitian Daus. Sang Profesior bahkan merelakan perpustakaan pribadinya di obrak – abrik oleh seorang anak gang Sanip itu. Perpustakaan pribadi terlengkap dan cukup spesifik dalam bidang hukum.

Bahkan terkadang Daus juga sering menjadi Library crawler, dia melenggang jauh ke berbagai forum konferensi hukum international. Dengan modal nekat plus status mahasiswa hukum Uthrect yang cukup ternama di Eropa (No. 1 di Belanda, no 5 di Eropa dan no 40 sedunia) plus dosen praktisi HAM dunia terpandang, membuatnya begitu mudah untuk mendapatkan akses murah untuk mengikuti konferensi tingkat dunia, dan akhirnya membawa pulang bahan – bahan internasional terbaru, dalam dokumen maupun dalam bentuk hasil diskusi tatap muka dengan oknumnya langsung.

Seperti di di Konferensi Internatinal Human Right Law di Luxembourg, misalnya. Soal pembahasan pelanggaran HAM di Timor Leste, Dia adalah satu – satunya orang Indonesia di forum itu. Sang mahasiswa doktoral di meja penyaji makalah yang Swiss tulen bahkan belum pernah ke indonesia, hanya dengan data internet saja dia membahasnya. Daus mulai beraksi, memaparkan pengetahuan riilnya soal hukum pidana Indonesia di Timor Leste yang kacau balau, dan dengan pengetahuanya itu Daus menjadi satu – satunya sumber authority yang di akui lainya. Semua hanya pasrah, manggut – manggut di buatnya.

Suasana di Belanda memang sungguh membantunya dalam Tesis terbesarnya, seperti budaya akademik Eropa yang membantu dan memudahkan riset, seperti saat break dari seminar. Daus dalam waktu seperti itu dapat berdiskusi dengan sang profesor yang selesai menyajikan makalah, dan kemudian menceritakan topik penelitianya. Dan dengan spirit yang sama -sama membara dalam meneliti ilmu, kemudian bertukar email, dan korespendensi bahan – bahan terbaru yang saling menunjang.

Honorable Mention

Wisuda master berjalan. Sesuai target Daus, bahkan sangat ideal, tiada yang mundur sama sekali. Sebuah usaha yang yang sungguh – sungguh memang tiada yang sia – sia. Our God never sleep.
Berbagai rentetan pujian mengalirderas ke Daus dan di akhiri….”That you have developed here in Uthrect into a competent legal researcher and you get an honorable mention”.
Firdaur Gojali Muthoyib, begitu terharu, sempat berkaca – kaca atas berbagai hasil yang di capainya yang merupakan klimaks dari segala upaya belajarnya selama ini. Memang bukan summa cum laude (Lulus dengan nilai kuliah sangat tinggi) tetapi Predikat Honorable Mention adalah suatu penghargaan tertinggi untuk nilai Tesis terbaik, bahwa penelitian yang dilakukan oleh Daus memanglah berbeda dan sangat mengagumkan. Predikat tersebut tersematkan kepada anak gang Haji Sanip, anak betawi itu.

Sebuah gelar yang telah lama diinginkanya tersemat. LLM (akronim dari Legum Master). Namun ada juga yang menjabarkanya Lex Legibus Magistri tetapi sekarang lebih terkenal sebagai Master of Law. Sebuah gelar yang dianggap oleh bangsa Yunani dulu mampu menguasai hukum dunia dan juga hukum langit namun sekarang lebih spesifik dalam satu bidang saja. Negeri Van Oranje menyebutnya Mester in d Retchen, the man who can change the law. Dan Uthrect merupakan Universitas yang memang mempunyai keunggulan dalam jurusan hukum tersebut.

Akhirnya sang anak gang Haji Sanip benar- benar telah mewujudkan mimpinya, meraih master hukum di Uthrect. Inspiratif. Daus, sang anak betawi meraih mimpi di negeri kincir angin.

…..

Sebuah buku itu, Negeri Van Oranje kini mulai menyeret mimpiku ke sana, serupa Daus. Ya, aku sudah berkeputusan bulat. Aku ingin meraih master pula di negara Oranje itu. Kisah inspiratifnya telah membiusku. Tahun 2011 akan menjadi pembuktian semuanya itu. Siapapun pasti bisa, termasuk aku sendiri untuk menjadi “The next Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri”.

Sumber gambar :
1. data:image/jpg;base64,/9j/4
2. http://farm4.static.flickr.com/3154/3069872958_77808621f2.jpg?v=0
3. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5e/Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg/220px-Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg

| Leave a comment

Anak Betawi meraih mimpi di Negeri Kincir Angin

Belakangan ini aku masih saja terpukau dengan seorang anak betawi lugu, penuh jenaka tetapi begitu inspiratif. Sebenarnya dia adalah salah satu tokoh dalam sebuah buku yang baru saja selesai kubaca. Negeri Van Oranje. Sebuah buku inspiratif yang tanpa sengaja aku membelinya ketika sebuah pagelaran Book fair di Gelora Bung Karno, Senayan. Tanpa terduga isinya begitu menakjubkan, memberiku sebuah inspirasi, sebuah harapan baru untuk pendidikanku S2 nantinya. Salah satu tokoh itu masih saja terngiang, dengan kesederhanaanya yang mampu meraih mimpi terbesarnya, meraih Master di “Negeri Kincir Angin”. Ingin hati rasanya mengikuti jejaknya, apalagi S1-ku yang akan selesai segera dalam hitungan bulan. S2 ke Negeri Belanda, mengapa tidak ?? Itu bukan hal yang Impossible. Buku itu dan tentu saja tokoh itu masih saja menjadi inspirasiku, sampai saat ini.

Alkisah,

Anak betawi tersebut bernama lengkap Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri, seorang putra Betawi asli dari Jakarta. Lebih dikenal dengan panggilan Daus. Dia berasal dari Gang Haji Sanip, Kelurahan Prumpung, Cipinang. Orang tuanya PNS golongan 2 di pasar Enjo, Cipinang.

Ketika usia remaja, Daus merupakan seorang penggila akut novel John Grisham, dan semenjak itu pula dia resmi bercita – cita ingin menjadi seorang pengacara Litigasi. Dia bekilah, “Kalau hanya masalah bersilat lidah, putera asli Betawi tidaklah kalah dengan para pengacara tanah Batak yang sering berkeliaran di TV. Bukankah Betawi juga terkenal mahir beradu pantun..”. Berbekal sebuah impian itu, akhirnya Daus tembus UMPTN di sebuah fakultas hukum di Universitas Indonesia.Pilihan yang tepat sekali.

Walaupun Daus sangat berminat menjadi seorang pengacara, tetapi akhirnya karena desakan engkong tercintanya (Seorang alumni pesantren Tebu Ireng) mimpinya berlabuh jauh dari dermaga awalnya, yaitu justru terdampar di Departemen Agama. Statusnya pun berubah menjadi Firdaus Muythoyib, S.H, PNS golongan 3A Departemen 3A. Seorang mediocore goverment ambtenaar, dia seolah tenggelam di balik kompleksnya birokrasi rumit Departemen Agama. Diapun menjadi staf Direktorat Jenderal Bina Masyarakat islam. Benar – benar salah tempat.

Setelah reuni tahunan almamater UI, Daus begitu terperangah ketika teman seperjuanganya ketika di kampus kuning itu hampir semuanya benar – benar berhasil menjadi pengacara sungguhan. Sesuai Impianya. Hanya dia yang benar – benar telah melenceng, terlempar dan akhirnya terjerembab dalam seragam PNS nya. Dari berbagai cibiran, bahkan sindiran yang terang – terangan yang ditujukan kepadanya, membuatnya langsung tersadar kembali. Dia semakin bertekad kuat mengejar mimpinya. Menjadi seorang pengacara, sungguhan. Dan akhirnya dia memutuskan untuk mencari beasiswa master di luar negeri.

Dan, kesempatan itupun datang. Beasiswa S2 STUNED (Studeren in Nederlands) dari Depag. Ketika karyawan lainya lebih memilih naik haji gratis atau kuliah ke Al Azhar Kairo hanya untuk mempercepat jenjang karir, Daus menang mutlak dalam seleksi beasiswa STUNED, karena tiada saingan karyawan Depag lain yang cukup “gila” untuk melamar sepertinya. Dia tak ragu kembali, dan langsung memilih Human Rights Law di Uthrect, sesuai mimpinya. Walaupun sebuah julukan Yahudi – Zionis- Barat pernah melekat pada jurusan yang dipilihnya, terlebih di negeri kompeni, Daus tak menggubrisnya karena dia paham betul akan misi mulia hak asasi manusia yang tentu tidak berpengaruh terhadap julukan tak berdasar itu.

Dauspun lulus dengan mudah dari ketua panel penguji program beasiswa STUNED, berbekal sebuah impian yang besar meraih mimpi di negeri kincir angin. Walaupun dia harus merelakan motor bututnya dengan hanya senilai tiga setengah juta, tidak lebih setelah bernegosiasi panjang nan melelahkan di bawah pohon jambu.. Semua demi menambah uang sakunya yang pas – pasan. Enkongnyapun akhirnya merestuinya, walaupun beliau mengetahuinya bahwa Daus menuntut ilmu ke negeri Cina (sesuai pepatah Islam). Daus pun berbinar riang, semangatnya meluap. “Siapa bilang anak Betawi tidak bisa sekolah sampai keluar negeri, Nedherlands…..I love U,and Europe…here I come” Katanya.

UTHRECT

Sebuah bangunan besar berpagar besi bediri dengan pongahnya menunjukkan gaya klasik arsitekturnya. UCU, University Campus Uthrect, dengan gaya klasik, lapangan luas dan asrama mahasiswa yang fasilitasnya menyaingi apartemen luks di Jakarta. Kampus Uthrect berdiri dengan keindahanya seolah ingin menyaingi Harvard atau Pricenton Amerika. Dan sebuah monumen seni berlambang seperti matahari berdiri. Seperti sebuah filosofi bahwa Uthrect akan memancarkan ilmu kepada semua mahasiswa yang belajar di sana.

Setiap hari Daus mengayuh sepedanya, sepeda tua berkelir hitam namun sudah dilengkapi dengan percepatan gir otomatis. Sesuatu yang jarang dilakukanya di Gang Haji Sanip belakangan ini. Daus teringat ketika semasa perjuangan SMP, yang suka bersepeda ria.

Daus setiap hari menelusuri Jalan utama Oudegraag, dengan kanan kirinya berderet toko toko khas Belanda. Dia begitu optimis setiap harinysa, ketika matanya menyapu pemandangan indah ini. Walaupun sebelumnya dia seorang PNS, dengan sepeda motor, dengan seragam plus jabatan yang lumayan, tetapi sekarang seolah namun benar – benar berubah, bukanlah siapa – siapa di negeri orang. Dan kini meski dengan jarak 14 kilometer setiap hari pulang pergi anehnya dia begitu menikmatinya. Demi sebuah mimpi. Kemudian Dia menikung di ke Jalan Janskerhooft, dan di Drift 13, diapun berhenti. Sebuah bangunan tua bergaya klasik dengan gagahnya bertengger, lengkap dengan menara tinggi berhiaskan jam besar berlapis emas.

Di Uthrect Daus begitu terperangah hampir pingsan ketika melihat fasilitas kampus yang berupa sebuah ruangan LLM room, sebuah fasilitas mewah yang disediakan Universitas Uthrect untuk mahasiswa LLM, pasca sarjana hukum. Di tempat istimewa ini terdapat 6 komputer flat screen untuk belajar, jatah print out hingga 1000 lembar perbulan. Dilengkapi dengan ruangan meeting, 2 sofa empuk, 25 locker dan juga satu cofee machine. Sebuah ruangan yang tidak kalah dengan executive lounge di bandara. Dan sebuah pemandangan indah yang menghadap ke jalan menyempurnakanya sekaligus.

Selama di Uthrect Daus terbiasa belajar ekstra atau lebih tepatnya extra belajar, dengan tugas yang ekstra pula, bahkan “The most Extra” selama dalam perjalan kuliah selama hidupnya. Seperti dalam satu minggu dia harus membaca 5 artikel ilmiah di jurnal, dua bab referensi, 10 kasus Europan Court of Human Rights. Terkadang Dia harus menambah ekstra keras belajar plus, seperti dikala LL room tertutup karena jam usai dia melaju ke tempat alternatif kedua, The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan besar di kampus Uthrect Uithof, rumah bagi fakultas – fakultas ilmu eksak dan medik. Bagian – bagian Universitas Uthrect memang tersebar di berbagai penjuru kota, tidak hanya satu lokasi saja.

Di The Grote Bibliothek, sebuah perpustakaan terbesar di Belanda itu terdapat sebuah dukungan teknologi yang menjadi kebanggaan warga Uthrect. Sesuatu yang mendukung untuk belajar, di tempat yang tepat, kata Daus. Di perpustakaan ini dilengkapi dengan komputer bermonitor LCD 19 inci dalam jumlah besar dan akses wifi, koleksi bukunya super lengkap dan ditambah sensor keamanan. Dan untuk tempat beristirahat dengan bantal – bantal yang besar nan nyaman, bangunan lima lantai ini sangat ideal untuk keperluan riset dan belajar. Daus setiap hari, selalu bergelut dengan tempat- tempat seperti ini, karena dia yakin tidaklah mungkin gelar LLM dapat di rengkuh tanpa pengorbanan.

Terkadang untuk waktu senggang Daus akan berkeliling Uthrect, hanya sekedar untuk melihat banyaknya pemandangan yang begitu memukau.. Seperti UTHRECT CENTRUM, pusat perbelanjaan terbuka mirip Cihampelas Walk Bandung. Juga sebuah Dom Tower, landmark terkenal kota Uthtrect yang dulunya sebuah gereja besar, yang bangunan aslinya runtuh hingga tertinggal sebuah menara tersebut.

Thesis

Dengan adanya berbagai motivasi kuliah, maka berbagai motivasi pula bermunculan terhadap pembuatan sebuah Tesis. Sebuah kewajiban yang sulit, kebanyakan menganggap seperti itu. Atau memang seperti itu sebenarnya. Tetapi bagi anak betawi gang Haji Sanip ini berbeda. Sangat berbeda

Karena kecintaanya kepada ilmu hukum, sebuah impian terbesarnya semenjak dahulu ketika di UI, Daus berprinsip lain. Dia memandang Tesis adalah sebuah mahakarya yang harus diukir dengan sungguh – sungguh. Dia selalu berkeinginan untuk menjadi sosok peneliti yang tekun.
Dia ingin menyandang titel LLM, master bidang hukum dan betul – betul ingin bergelut sebagai praktisi hukum. Bukan terdampar dalam carut marut birokrasinya Depag.

Daus selalu berhasil mendapatkan jurnal – jurnal yang sudah terdokumentasikan dengan canggih dalam bank digital semacam Lexis, West Law, atau JSTOR, dan juga pertolongan gratis dari para Ph.d, kenalanya. Semua karena kepandaian dalam berkoneksi rianya.

Dalam hal riset, Dauspun tak kalah mengejutkan, dia sebagai satu – satunya mahasiswa yang dirujuk kepada profesor nyentrik, salah satu pakar terkemuka kelas dunia dalam bidang yang menjadi topik penelitian Daus. Sang Profesior bahkan merelakan perpustakaan pribadinya di obrak – abrik oleh seorang anak gang Sanip itu. Perpustakaan pribadi terlengkap dan cukup spesifik dalam bidang hukum.

Bahkan terkadang Daus juga sering menjadi Library crawler, dia melenggang jauh ke berbagai forum konferensi hukum international. Dengan modal nekat plus status mahasiswa hukum Uthrect yang cukup ternama di Eropa (No. 1 di Belanda, no 5 di Eropa dan no 40 sedunia) plus dosen praktisi HAM dunia terpandang, membuatnya begitu mudah untuk mendapatkan akses murah untuk mengikuti konferensi tingkat dunia, dan akhirnya membawa pulang bahan – bahan internasional terbaru, dalam dokumen maupun dalam bentuk hasil diskusi tatap muka dengan oknumnya langsung.

Seperti di di Konferensi Internatinal Human Right Law di Luxembourg, misalnya. Soal pembahasan pelanggaran HAM di Timor Leste, Dia adalah satu – satunya orang Indonesia di forum itu. Sang mahasiswa doktoral di meja penyaji makalah yang Swiss tulen bahkan belum pernah ke indonesia, hanya dengan data internet saja dia membahasnya. Daus mulai beraksi, memaparkan pengetahuan riilnya soal hukum pidana Indonesia di Timor Leste yang kacau balau, dan dengan pengetahuanya itu Daus menjadi satu – satunya sumber authority yang di akui lainya. Semua hanya pasrah, manggut – manggut di buatnya.

Suasana di Belanda memang sungguh membantunya dalam Tesis terbesarnya, seperti budaya akademik Eropa yang membantu dan memudahkan riset, seperti saat break dari seminar. Daus dalam waktu seperti itu dapat berdiskusi dengan sang profesor yang selesai menyajikan makalah, dan kemudian menceritakan topik penelitianya. Dan dengan spirit yang sama -sama membara dalam meneliti ilmu, kemudian bertukar email, dan korespendensi bahan – bahan terbaru yang saling menunjang.

Honorable Mention

Wisuda master berjalan. Sesuai target Daus, bahkan sangat ideal, tiada yang mundur sama sekali. Sebuah usaha yang yang sungguh – sungguh memang tiada yang sia – sia. Our God never sleep.
Berbagai rentetan pujian mengalirderas ke Daus dan di akhiri….”That you have developed here in Uthrect into a competent legal researcher and you get an honorable mention”.
Firdaur Gojali Muthoyib, begitu terharu, sempat berkaca – kaca atas berbagai hasil yang di capainya yang merupakan klimaks dari segala upaya belajarnya selama ini. Memang bukan summa cum laude (Lulus dengan nilai kuliah sangat tinggi) tetapi Predikat Honorable Mention adalah suatu penghargaan tertinggi untuk nilai Tesis terbaik, bahwa penelitian yang dilakukan oleh Daus memanglah berbeda dan sangat mengagumkan. Predikat tersebut tersematkan kepada anak gang Haji Sanip, anak betawi itu.

Sebuah gelar yang telah lama diinginkanya tersemat. LLM (akronim dari Legum Master). Namun ada juga yang menjabarkanya Lex Legibus Magistri tetapi sekarang lebih terkenal sebagai Master of Law. Sebuah gelar yang dianggap oleh bangsa Yunani dulu mampu menguasai hukum dunia dan juga hukum langit namun sekarang lebih spesifik dalam satu bidang saja. Negeri Van Oranje menyebutnya Mester in d Retchen, the man who can change the law. Dan Uthrect merupakan Universitas yang memang mempunyai keunggulan dalam jurusan hukum tersebut.

Akhirnya sang anak gang Haji Sanip benar- benar telah mewujudkan mimpinya, meraih master hukum di Uthrect. Inspiratif. Daus, sang anak betawi meraih mimpi di negeri kincir angin.

…..

Sebuah buku itu, Negeri Van Oranje kini mulai menyeret mimpiku ke sana, serupa Daus. Ya, aku sudah berkeputusan bulat. Aku ingin meraih master pula di negara Oranje itu. Kisah inspiratifnya telah membiusku. Tahun 2011 akan menjadi pembuktian semuanya itu. Siapapun pasti bisa, termasuk aku sendiri untuk menjadi “The next Firdaus Gojali Muthoyib bin Satiri”.

Sumber gambar :
1. data:image/jpg;base64,/9j/4
2. http://farm4.static.flickr.com/3154/3069872958_77808621f2.jpg?v=0
3. http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/5e/Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg/220px-Utrecht- Uithof%2C_from_CambridgeLaan_01.jpg

Posted in peserta | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in peserta | 1 Comment